Merajut Persatuan Bersama ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC)
ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC) atau Masyarakat Sosial Budaya ASEAN adalah salah satu pilar utama komunitas ASEAN dalam bentuk kerja sama yang berorientasi dan berpusat pada masyarakat untuk memperkuat integrasi ASEAN dan memperkokoh kesadaran, kesetiakawanan, kemitraan, dan rasa kebersamaan masyarakat terhadap ASEAN.
Terdapat lima karakter dalam Visi Masyarakat Sosial Budaya ASEAN 2025 yang tertuang dalam blueprint ASCC 2025, yaitu: (1) mengikutsertakan dan bermanfaat bagi masyarakat; (2) inklusif; (3) berkelanjutan; (4) berdaya tahan; dan (5) dinamis.
Dalam pemaparan dan diskusi ASCC pada kelas ASEAN dan Regionalisme di Asia Tenggara tanggal 26 April 2019 dan 6 Mei 2019 mencoba mengangkat beberapa studi kasus, seperti: ASCC – Sustainable Development Goals 2030, Olahraga, Biodiversity, Climate Change, Eco-friendly and Green Lifestyle, Millennials Lifestyle dan Pemuda, dan Perlindungan Anak dan Perempuan.
Beberapa studi kasus tersebut setidaknya mewakili dari karakter-karakter yang dirumuskan dalam cetak biru ASCC 2025. Dari rumusan yang sudah diaplikasikan, dalam bidang olahraga, ASIAN Games 2018, misalnya. Kita dapat melihat momentum luar biasa bagaimana Korea Utara dan Korea Selatan yang sudah sejak lama terjadi ketegangan antar keduanya kemudian melebur jadi satu dalam agenda kerja sama di ajang ASIAN Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Palembang, Indonesia. Olahraga telah menjadi jalan untuk rekonsiliasi ketegangan negara.
Di sisi lain, ASEAN secara serius juga memperhatikan masalah-masalah perlindungan anak dan perempuan seperti terwujud dalam;
- ASEAN Convention Against Trafficking in Person, Especially Women and Children yang bertujuan untuk mencegah dan memberantas perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak, serta memastikan hukum yang adil dan efektif bagi pelaku perdagangan manusia.
- ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers yang mempunyai prinsip baik negara penerima maupun negara pengirim harus memperkuat pilar politik, dan sosial komunitas ASEAN dengan mempromosikan potensi penuh dan martabat pekerja migran dalam iklim kebebasan, keadilan, dan stabilitas sesuai dengan hukum, peraturan, dan kebijakan dari masing-masing Negara Anggota ASEAN.
- The ASEAN Commission on the Promotion and Protection of the Rights of Women and Children (ACWC) yang bertujuan untuk memperkuat upaya bersama dalam Pemajuan dan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak di kawasan.
Dengan beberapa studi kasus dan bentuk kerja sama di atas kiranya ASEAN mampu menciptakan iklim persatuan dalam bingkai Masyarakat Sosial Budaya. Prinsip-prinsip dialog dan kerja sama dalam Masyarakat Sosial Budaya adalah sebuah upaya untuk terus aktif mengikuti dinamika politik regional dan global.
Dengan terus terlibat aktif, ASEAN diharapkan mampu menyuguhkan solusi komprehensif yang sejalan dengan perkembangan tatanan politik global serta memperkuat rasa kebersamaan dengan menjunjung tinggi prinsip non-intervensi dan menghormati nilai-nilai luhur kedaulatan negara. Karena inti Masyarakat Sosial Budaya ASEAN adalah komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup rakyat melalui kerja sama yang berorientasi pada rakyat, berpusat pada rakyat, ramah lingkungan, dan diarahkan untuk memajukan pembangunan berkelanjutan.
Perwujudan Kerja Sama dalam Lingkaran Pilar-Pilar Komunitas ASEAN
Di awal kita sudah mencoba melihat bagaimana masing-masing pilar utama memainkan perannya dalam kontribusi membangun integritas komunitas ASEAN dan kawasan dalam menghadapi tantangan dan kendala terhadap dinamika kontemporer politik regional maupun global. Namun yang menjadi perhatian utama di sini adalah bagaimana ketiga pilar utama dalam blueprint 2025 dapat menjadi kunci membangun kredibilitas komunitas bagi kawasan dan global. Sinergitas kerja sama harus dipandang sebagai komponen kerja sama secara berkelindan. Dengan demikian harapan akan proyeksi blueprint ASEAN 2025 dapat menjalankan peranannya secara maksimal.
Seperti sudah disinggung di atas, bahwa ASEAN memiliki (ASEAN Political-Security Community Council/APSCC) atau Dewan Masyarakat Politik Keamanan Masyarakat ASEAN yang dalam prinsip kerjanya harus mampu mengintegrasikan bentuk-bentuk kerja sama dari semua pilar yang ada; AEC, APSC, dan ASCC.
Sektor perekonomian berbasis digital di kawasan yang muncul sebagai bentuk respon atas perkembangan globalisasi terhadap pasar harus mampu mengembangkan atau paling tidak menjaga pasar agar tetap stabil. Dengan kestabilan ini, arus distribusi informasi, barang, dan jasa dapat berjalan dengan lancar untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar. Dalam arsitektur pasar ini peranan AEC menjadi sangat kuat untuk mengatur dan menciptakan iklim pasar yang sehat bagi para anggota komunitas dan pihak eksternal.
Proses globalisasi selain mendorong sektor perekonomian untuk menyesuaikan diri terhadap pasar juga mendorong bentuk-bentuk kerja sama dalam sektor sosial kebudayaan yang turut serta berkontribusi terhadap respon globalisasi dan dinamika politik global seperti dalam studi kasus kerja sama antara Korea Selatan dan Korea Utara dalam ajang ASIAN Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Di sini peranan pilar ASCC menjadi begitu penting sebagai wadah kerja sama dalam Masyarakat Sosial Budaya ASEAN.
Harapan akan ekonomi pasar yang stabil dan kondusif memang menjadi fokus pilar AEC, namun iklim pasar yang stabil dan kondusif juga menjadi peranan yang penting bagi APSC, pilar ini harus menyuguhkan regulasi yang tidak menghambat perkembangan pasar dan mampu memberikan ruang yang aman dalam distribusi informasi, barang, dan jasa bagi komunitas.
Dengan iklim pasar yang aman dan regulasi yang komprehensif diharapkan perekonomian, bukan saja perekonomian berbasis digital, mampu menciptakan pasar yang berkelanjutan. APSC juga berperan penting untuk menjaga keamanan bagi komunitas di kawasan dalam hal ini terkait dengan perkembangan Masyarakat Sosial Budaya. Kejahatan lintas batas negara, terorisme, misalnya, secara tidak langsung juga menjadi ancaman terhadap kultur-kultur yang sangat heterogen di kawasan Asia Tenggara yang sudah dijaga berabad-abad sebagai warisan dunia. Menjadi begitu penting, sebab kehidupan sosial dan kebudayaan adalah peradaban manusia yang harus dijaga dan dilestarikan. Kesadaran akan pentingnya rasa memiliki bersama akan budaya kiranya membawa Korea Utara dan Korea Selatan berada dalam panggung yang sama untuk memperjuangkan eksistensinya di kancah olahraga dunia, ASIAN Games 2018.
Namun hal yang paling mendasar adalah kesadaran seluruh Masyarakat Komunitas ASEAN bahwa kita sedang menghadapi tantangan dalam perkembangan proses globalisasi. Masyarakat juga harus berperan aktif terlibat secara langsung maupun tidak langsung yaitu dengan mempromosikan agenda kerja sama komunitas ASEAN.

Tidak ada komentar